High and Lifted Up

It was a windy day.The mailman barely made it to the front door. When the door opened, Mrs. Pennington said, “hello”, but, before she had a real chance to say “thank you”, the mail blew out of the mailman’s hands, into the house and the front door slammed in his face. Mrs. Pennington ran to pick up the mail.

“Oh my,” she said.

Tommy was watching the shutters open and then shut, open and then shut.

“Mom,” he said, “may I go outside?”

“Be careful,” she said. “It’s so windy today.”

Tommy crawled down from the window-seat and ran to the door. He opened it with a bang. The wind blew fiercely and snatched the newly recovered mail from Mrs. Pennington’s hands and blew it even further into the house.

“Oh my,” she said again. Tommy ran outside and the door slammed shut.

Outside, yellow, gold, and red leaves were leaping from swaying trees, landing on the roof, jumping off the roof, and then chasing one another down the street in tiny whirlwinds of merriment.

Tommy watched in fascination.

“If I was a leaf, I would fly clear across the world,” Tommy thought and then ran out into the yard among the swirl of colors.

Mrs. Pennington came to the front porch.

“Tommy, I have your jacket. Please put it on.”

However, there was no Tommy in the front yard.

“Tommy?”

Tommy was a leaf. He was blowing down the street with the rest of his play-mates.

A maple leaf came close-by, touched him and moved ahead. Tommy met him shortly, brushed against him, and moved further ahead. They swirled around and around, hit cars and poles, flew up into the air and then down again.

“This is fun,” Tommy thought.

The maple leaf blew in front of him. It was bright red with well-defined veins. The sun-light shone through it giving it a brilliance never before seen by a little boy’s eyes.

“Where do you think we are going?” Tommy asked the leaf.

“Does it matter?” the leaf replied. “Have fun. Life is short.”

“I beg to differ,” an older leaf said suddenly coming beside them. “The journey may be short, but the end is the beginning.”

Tommy pondered this the best a leaf could ponder.

“Where do we end up?”

“If the wind blows you in that direction,” the old leaf said, “you will end up in the city dump.”

“I don’t want that,” Tommy said.

“If you are blown in that direction, you will fly high into the air and see things that no leaf has seen before.”

“Follow me to the city dump,” the maple leaf said. “Most of my friends are there.”

The wind blew Tommy and the maple leaf along. Tommy thought of his choices. He wanted to continue to play.

“Okay,” Tommy said, “I will go with you to the dump.”

The winds shifted and Tommy and the leaf were blown in the direction of the city dump.

The old leaf didn’t follow. He was blown further down the block and suddenly lifted up high into the air.

“Hey,” he called out, “the sights up here. They are spectacular. Come and see.”

Tommy and the maple leaf ignored him.

“I see something. I see the dump.” The old leaf cried out. “I see smoke. Come up here. I see fire.”

“I see nothing,” the maple leaf said.

Tommy saw the fence that surrounded the city dump. He was happy to be with his friend. They would have fun in the dump.

Suddenly, a car pulled up. It was Tommy’s mom. Mrs. Pennington wasn’t about to let her little boy run into the city dump.

“Not so fast,” she said getting out of the car. “You are not allowed to play in there. Don’t you see the smoke?”

Tommy watched the maple leaf blow against the wall and struggle to get over. He ran over to get it but was unable to reach it.

Mrs. Pennington walked over and took the leaf. She put it in her pocket.

“There,” she said, “it will be safe until we get home.”

Tommy smiled, ran to the car and got in. He rolled down the back window and looked up into the sky. He wondered where the old leaf had gone. Perhaps one day he would see what the old leaf had seen – perhaps.


Lahirnya Bayang-Bayang putih


          Aku tersedak oleh udara yang terasa sangat dingin, membeku dari kesadaranku yang baru kembali. Pipiku kebas, bahkan tak terasa. Kurasakan ujung-ujung jemariku bergetar, kuat sekali hingga ikut menggoyang tubuhku tapi tak terlihat. Kubiarkan perlahan cahaya rembulan yang kali ini sangat terang menembus mataku. Cahayanya begitu terang, bundar seperti telor ayam. Kupikir itu efek karena aku sepertinya baru bangun dari tidur yang kumulai entah kapan, karena aku tak ingat kapan aku sengaja memejamkan mata. Tapi yang ada dalam benakku bukan mengapa aku tidur dan baru terbangun, aku hanya ingin kembali ke gang biasa aku mencium bau sampah, ditemani cahaya temaram lampu jalanan, becek, di dalam sebuah rumah kardus.

Aku bangkit berusaha melawan tangan dan kakiku yang kini ikut bergetar sangat kencang. Mataku pulih. Aku melotot, menyadari aku ada di tengah taman kota malam hari. Aku tidak melihat siapa-siapa. Yang bersamaku hanya gemericik air mancur dan pohon-pohon semak yang bergoyang-goyang ikut kedinginan. Pikiranku mengawang, karena disini gelap sekali. Aku takut ada yang tak sengaja melihatku jadi ku tinggikan tubuhku hingga kurasa kakiku telah sanggup menahan berat. Yang kutahu saat ini aku bukan selayaknya ada disini. Entah kenapa.

Berjalan semakin keluar menuju gang yang kini membumbung di otakku. Aku tak tahu ke mana arah jalannya karena aku sebelumnya tidak pernah ke sini.

Aku tak berani kesini sebab banyak pengawal bertopi yang berbadan bagus dengan pakaian ketat yang bisa menangkapku. Aku hanya berputar-putar di jalan pinggir kota, berteriak parau dalam bis kota,mencium bau rumput dan ilalang yang ada di taman perumahan dan sesekali mencuri roti untuk selanjutnya dipukuli si penjaga toko. Tanpa apapun yang bisa kuceritakan pada orang banyak aku cukup bahagia menjadi bagian yang tidak diinginkan dari kota ini.

Pernah suatu ketika, aku mencoba untuk mencari peruntungan di kawasan perkantoran. Saat itu hari sangat gelap dan hujan turun dengan deras. Kupikir tak ada yang lebih dibutuhkan para pegawai saat itu selain payung atau jas hujan. Maka aku menawarkan satu-satu kepada mereka payung dan jas hujan yang kupinjam diam-diam dari toko serba ada di dekat gang.

Awalnya berjalan baik. Maka setelah kuhampiri mereka, menyeberang bersama mereka, mereka melepaskan kembali mantel hujan dan payungnya, Mereka memberiku sekeping uang tanpa kembali menoleh kepadaku. Tak apa. Yang penting bagiku benda itu cukup banyak hingga aku berharap saat itu seandainya setiap hari turun hujan.

Seketika aku kembali menyeberang, sorang paman menghampiriku. Ia berlari kencang keluar dari sebuah kantor seperti dikejar tukang hutang. Ia kebingungan melihat hujan deras sekali. Maka kuhampiri dan dengan ramah kutawarkan barang yang jadi mesin pencetak uangku hari itu. tanpa pikir panjang ia mengambilnya. Memakainya, kemudian menyeberang di tengah hiruk pikuk lalu lintas yang padat dan guyuran hujan yang juga kian deras. Maka sesampainya diseberang aku sodorkan tanganku meminta apa yang jadi satu-satunya tujuanku melakukan ini semua.

Bersamaan dengan kilat petir hari itu. Aku terlempar. Mungkin lebih tepatnya terkapar di tengah jalan. Semua mobil berhenti, membunyikan klakson, dan semua pandangan mata hiruk pikuk saat itu tertuju kepadaku. Aku sempat kaget. Bahkan uang disakuku terlempar di aspal. Aku hanya duduk tersimpuh. Tak mampu berdiri. Jas hujan dan payung yang juga ikut terkapar tadi bahkan tak mampu membuatku segera bangkit. Ya, paman tadi baru saja menolak membayar, melepaskan jas hujannya dengan kasar. Aku memaksa. Maka ia mendorongku ke tengah jalan. Ia lalu pergi entah kemana. Menghilang didalam hiruk pikuk jalan perkantoran yang segera kembali berjalan seperti biasa. Sebuah rasa sakit yang berjalan sedemikian cepat. Aku hanya terdiam.

Kembali ke taman kota malam hari. Belum sempat aku melangkah jauh, bayangan hitam didepanku tiba-tiba menjelma jadi sosok putih yang bersinar. Seperti kilatan cahaya yang memancar, ia semakin mendekat ke arahku. Aku menatapnya keheranan. Tapi tidak takut.

Dia bukan orang jahat pikirku. Dia nampak seperti gadis kecil dengan muka polos yang sangat cantik. Ia lalu menyapaku dengan kesunyian. Ia bertanya seolah ia telah lama mengenalku. Dengan jujur kubilang pada gadis itu bahwa aku datang dari suatu gang sempit. Namun aku tak tahu jalan kembali kesana. Maka ia tersenyum dingin. Ia bersedia menemaniku kesana. Aku berterimakasih dan mulai berjalan bersamanya

Aku tidak berpikir panjang lagi. Lumayan dia datang untuk menemaniku, tapi mungkinkah ini semua kebetulan ? Seorang gadis kecil di taman kota tengah malam sepertiku. Apakah ia tidak tersesat juga sepertiku ? Aku bingung sendiri. Kuputuskan tidak bertanya lebih jauh. Takut kalau dia malah tersinggung. Namun wajahnya yang damai, kupikir ia tak punya niat jahat apapun.

Maka kami berjalan keluar dari taman, menjauh dari kegelapan yang pekat. Setidaknya di jalan ini banyak sekali lampu penerangan. Aku lebih suka seperti ini. Tidak pula ada satupun bis kota melintas, jadi kami percepat gerakan kami agar cepat sampai di tujuan.

Sebenarnya aku lebih merasakan kehampaan saat ini. ketimbang merasakan rasa sakit dan penderitaan yang bila diingat setiap hari tak henti aku terima. Aku tak pernah menyalahkan siapa-siapa atas hidupku. Namun setiap malam ketika aku kembali ke peraduanku, aku ingin ketika membuka mata esok pagi, semuanya akan berubah. Atau berharap kepada tuhan setidaknya jika itu tak mungkin. Maka jangan pernah biarkan aku terbangun dari tidurku. Atau ketika keduanya pun tak bisa kudapatkan, aku hanya tersenyum saat terbangun di pagi hari. Menatap matahari yang kembali cerah. Berharap dengan senyuman bisa merubah hari itu. Mungkin benar kata orang. Penuhilah hidupmu dengan mimpi-mimpimu. Maka mimpi itu yang akan membuatmu tetap hidup. Karena memang mimpi tidak pernah tertidur. Aku yakin.

Selama berjalan aku tak lagi menatap padanya. Semakin lama aku berada di sebelahnya aku sangat merasa nyaman. Jadi kubiarkan ia yang menatapku sangat tajam. Terus menyusuri trotoar bersama dengan keheningan. Tiba-tiba ia kembali berbicara padaku.

Dia bilang padaku, ingin mengenalku lebih jauh. Aku gagap seperti kena hipnotis tiba-tiba. Aku tidak berani bilang siapa aku. Aku takut jika dia sebenarnya suruhan dari prajurit-prajurit itu dan berusaha mengantarku ke kantor pemeriksaan mereka.

Aku semaput dibuatnya. Apakah harus aku memberitahunya ? sedangkan matanya menatapku penuh keyakinan, aku punya insting dia sebenarnya tak akan jahat. aku putuskan aku akan berterus terang.

Maka kuceritakan kepadanya tentang gang sempit dibelakang pertokoan dengan banyak sampah dan rumah kardusnya. Juga jalan tempat petir menyambar ditengah hujan yang membasahiku di tengah jalan. Serta pukulan-pukulan penjaga toko roti yang mendarat di wajahku hampir setiap hari kepadanya. Kuceritakan tanpa sepatah kata.

Dia tersenyum mendengar ceritaku. Dia balik bercerita seolah sangat mengerti perasaanku. Dia bercerita bahwa ia sering mengantar anak tersesat sepertiku pulang. Ia bilang banyak anak-anak yang bahkan tak ingat darimana ia berasal. Katanya, mereka terbangun dari tidur dengan mimpi yang sangat indah. Sangat indah sehingga mereka tak mengenali kehidupan awal mereka. Dia berkata beruntunglah aku tak sampai lupa seperti mereka. Aku hanya tersenyum simpul. Dan aku bertanya sendiri dalam hati. Adakah mimpi yang sedemikian indah seperti itu. Aku hanya ingin tahu apa aku bisa mendapatkan mimpi seperti itu.

Kami terus berjalan. Perlahan namun pasti. Menjauh meninggalkan taman pusat kota. Kupikir aku harus kembali kesana. Bukan karena aku selayaknya disana seperti pulang ke rumah. Namun kupikir aku meninggalkan sesuatu di sana, entah apa. Dan cahaya lampu jalan tinggallah temaram.

***

Lampion-lampion merah bergoyang-goyang ditiup angin malam. Ah, aku baru ingat.  Ini pertokoan yang sering aku singgahi saat jam makan siang. Dan aku baru sadar ini semakin dekat ke gang yang ada di pikiranku. Juga toko roti tempatku mencuri roti tiap hari. Aku tak begitu memperhatikan yang lainnya karena sebetulnya di sini penuh sesak dengan orang-orang. tapi seperti biasa tak ada yang peduli dengan sosok sepertiku.

Gadis kecil itu kembali bertanya masih seberapa jauhkah gang itu. kuisyaratkan bahwa itu sudah tidak jauh dengan menunjuk ke arah persimpangan di ujung pertokoan. Dia makin bersemangat dan bahkan menarik tanganku agar berjalan lebih cepat. Ia bilang kuharap aku dapat mengerti kenapa dia mengantarku dan mengapa aku ingin kembali sesampainya disana.

Aku tidak begitu memperhatikan perkataannya, hanya saja semakin dekat ke gang itu perasaanku menjadi aneh. Seluruh tubuhku menjadi dingin.

Dari pertokoan tadi kami berbelok ke arah dalam, dan inilah gang yang aku cari. Gang sempit dengan banyak gerobak sampah dan rumah-rumah kardus berserakan. Hening dan sunyi. Seperti biasanya.

Terlihat di ujung sana tergeletak seorang anak kecil, bertubuh kurus, dengan pakaian lusuh bersimbah darah. Disampingnya tergeletak pisau lipat yang masih berlapiskan darah merah segar. Uang receh tertinggal di aspal jalan. Matanya menatap langit. Tepat di bawah lampu jalan yang juga sama-sama temaram.

Gadis kecil berbaju putih tadi melangkah bersamaku mendekati bangkai bocah malang tersebut. Perlahan aku tak lagi merasakan tubuhku.

Maka ia mengenalkan padaku seorang teman yang sudah lama sekali ia nanti-nantikan. Seorang anak yang baik katanya. Yang tak pernah berhenti berharap mendapatkan mimpinya. Walau ia tahu mimpinya bagai debu beterbangan di kota itu. Ia bilang, ia akan lebih baik bersama kami.

Dan aku menyadari, ketika tubuhku menjelma menjadi sesosok bayang-bayang putih. Maka kini tak kan ada lagi penderitaan. Tak kan ada lagi rasa sakit, dan tak akan ada lagi kesendirian. Yang ada hanya  mimpi yang tak perlu tidur untuk kau menjumpainya.

Kami akan terbang di setiap malam, menyusuri seluruh pelosok kota, berjalan-jalan ditaman, menemani anak-anak kesepian lainnya sepanjang hari, serta menaburkan mimpi-mimpi agar mereka tertidur dengan nyaman, tanpa satupun rasa cemas. Kami akan dengan setia menjadi penunggu yang baik bagi kota ini. Dengan segala keserakahan dan kekejamannya di siang hari, kami akan mengobatinya dengan kisah-kisah kami di malam hari. Kami akan menjadi wajah yang tak terlukiskan diantara tingginya gedung-gedung pencakar langit atau gemerlapnya kemewahan dari orang-orang yang buta. Berharap satu persatu dari anak-anak kesepian lainnya menyadari kehadiran kami dan ikut menjalani mimpi yang teramat indah yang tak akan pernah didapatkan di kota itu.

Kemudian disaat aku menjemput lahirnya bayang-bayang putih lainnya. Maka saat itulah kami bisa menjadi sesuatu yang setidaknya menurut kami lebih layak kami dapatkan.

Pinggiran kota , 2012

 

By astronautis Posted in Sastra Dengan kaitkata